CEO Barcelona: Habiskan Cap Pengaruhi Kontrak Messi

Barcelona harus meningkatkan pendapatan mereka untuk bisa memperbarui kontrak dengan sang mega bintang, Lionel Messi yang pada tahun 2018 akan habis.

Kontrak Messi yang memakan banyak anggaran Barca ternyata menjadi masalah tersendiri bagi klub. CEO Barcelona mengatakan jika menghabiskan cap dapat mempengaruhi perpanjangan kontrak Lionel Messi. Ya, harapan Barcelona untuk menawarkan Lionel Messi kontrak baru sedikit dilematis karena Barca telah menghabiskan banyak cap yang dikeluarkan di La Liga. Dalam hal ini, CEO klub judi online, Oscar Grau akhirnya angkat bicara.

Anggaran Barca Menjadi Masalah Kontrak Messi

Luis Suarez dan Neymar masing-masing telah menandatangani kesepakatan baru sampai 2021. Akan tetapi kontrak Messi akan habis pada 2018 dan belum ada kabar perpanjangan kontrak. Artinya, Barca memiliki waktu hingga 18 bulan untuk mencegah dia meninggalkan klub. Kabarnya, pemain argentina tersebut mendapatkan bayaran € 22 juta (£ 19 juta) per tahun setelah pajak, sedangkan gaji Neymar dan Suarez diyakini € 25 juta (£ 21.6 juta) setelah perpanjangan kontrak terbaru mereka.

Grau mengatakan kesepakatan baru untuk Messi akan memberikan tekanan besar pada keuangan klub. “Barcelona harus menganalisis situasi ini dengan kepala dingin dan akal sehat,” kata Grau pada hari Rabu di Europa Forum. Ia menambahkan; “Barca tidak bisa melebihi 70 persen dari anggaran untuk gaji pemain dan oleh karena itu kita harus membuat jumlahnya bertambah.”

La Liga setuju batas anggaran dengan klub masing-masing pada awal setiap musim dan peraturan mereka, yang dikenal sebagai kontrol ekonomi, mencegah klub untuk menghabiskan lebih dari 70 persen dari anggaran mereka pada gaji pemain.  Saat ini, anggaran Barca untuk musim ini mencapai rekor dengan total € 695 juta (£ 601.7 juta).  Tim Catalans membayar upah tertinggi di Spanyol dan tertinggi kedua di dunia setelah Manchester United, menurut publikasi terbaru dari Global Sports Salary Survey (GSSS).

Barca Harus Tingkatkan Pendapatan untuk Kontrak Messi

Grau mengatakan salah satu cara untuk Barca memperpanjang kontrak Messi adalah dengan cara meningkatkan pendapatan. Kesepakatan mereka dengan sponsor terbaru mereka yakni retailer (pengecer) asal Jepang, Rakuten akan membuat klub mendapatkan dana yang memecah rekor dunia yakni € 55 juta (£ 47.6 juta) per tahun. Cara ini bisa saja dilakukan oleh klub baik dengan retailer lainnya juga untuk meningkatkan pendapatan klub, demi Messi.

Selain dengan cara di atas, klub Barcelona juga bisa menjual pemain lain dalam rangka menciptakan kontrak baru untuk Messi, yang merupakan pencetak gol terbanyak di La Liga musim ini dengan 13 gol. Grau mengatakan hal berikut;

“Salah satu pilihan adalah untuk meningkatkan pendapatan kami, sebagai perkiraan strategi ekonomi kami. Kami ingin memiliki pemain terbaik di dalam klub, tapi mungkin kita harus memprioritaskan (hal lainnya).”

Grau juga menambahkan; “Klub ingin pemain terbaik di dunia untuk tinggal di Barca. Saya ingin meringankan kekhawatiran dari anggota klub dan pendukung tetapi kita harus menggunakan akal sehat.”

Jadi, tidak ada cara lain bagi Barca selain meningkatkan pendapatannya entah itu dengan bekerjasama dengan pihak sponsor atau dengan menjual pemain lain. Apapun bisa Barca lakukan selama itu untuk Messi. Apalagi, selama Messi belum meneken kontrak barunya, sudah banyak spekulasi terutama dari klub lain togel singapura yang juga mengincar Messi.

Walau demikian, sejauh ini Messi tetap memperlihatkan keinginannya untuk tetap tinggal dan bermain untuk Barcelona hingga akhir karirnya nanti. Hanya saja, dunia sepakbola penuh dengan kemungkinan sehingga apapun bisa terjadi seperti Messi yang awalnya memiliki keinginan kuat untuk pensiun dari Timnas Argentina, namun akhirnya ia kembali lagi. Semua bisa terjadi.

Kyle Walker dan Danny Rose; Saingan Berubah Menjadi Partner

Walker dan Rose, pemain full back Tottenham Hotspurs adalah pemain yang masuk ke Spurs dari usia belia dan memiliki persaingan yang berubah menjadi partner.

Kyle Walker dan Danny Rose mengakui mereka melihat satu sama lain sebagai saingan di Tottenham dan mereka juga berharap untuk meraih trofi musim ini. Itulah yang menarik, Rose dan Walker sampai saat ini merupakan pemain yang menarik. Dua Yorkshiremen, mereka lahir hanya berbeda satu bulan, diawali sebagai anak-anak dan pemain dengan penuh persaingan tetapi sekarang mereka telah menjadi teman satu tim dan yang harus ditakuti di Liga Primer judi bola.

Dari Persaingan Menjadi Partner di Tottenham

Rose berumur 17 tahun ketika ia menandatangani kontrak bersama Tottenham Hotspurs. Sedangkan Walker pindah dua tahun kemudian setelah bermain di sedikit pertandingan untuk Sheffield United. Saat Walker menekan kontrak, saat itu ada empat orang lainnya yakni Gunts [Chris Gunter], [Vedran] Corluka, [Pascal] Chimbonda dan Naughts [Kyle Naughton]. Untungnya ada orang-orang yang percaya pada Walker sehingga secara bertahap ia bisa menjalani karirnya.

Awalnya, keduanya bekerja dengan cara mereka sendiri terhadap tim Spurs. Persaingan yang ramah yang mereka miliki terus berlanjut. Persaingan mereka terlihat sangat jelas ketika masing-masing menjadi pemain pinjaman seperti saat Rose membela Bristol City dan Walker di QPR. Mereka berdua berhadapan head to head. Mereka memang tidak bisa menyembunyikan persaingan keduanya.

Keduanya mungkin masih memiliki saingan jika dikatakan sebagai pemain belakang yang hebat di Eropa, namun semua pasti sepakat jika keduanya merupakan pemain belakang yang sangat berbakat dan merupakan saingan yang kini berubah menjadi partner yang kuat dan solid. Menariknya, keduanya juga terus berlatih untuk saling mengimbangi sehingga akan menjadi partner yang semakin kuat. Baik Walker maupun Rose memang terus berlatih untuk melengkapi dan mendukung satu sama lain.

Partner Hebat yang Membawa Kemenangan untuk Spurs

Ada persaingan di antara mereka tapi selama pertandingan, mereka bekerja sangat baik sebagai partner. Sebagai contoh, ketika ada seorang yang maju ke depan, Mauricio Pochettino berharap yang lain agar mengisi dan menutup bagian yang kosong. Kerjasama seperti ini memang sangat diharapkan dari setiap klub apalagi bagi lini belakang. Bahkan, kerjasama antara Rose dan Walker berbuah manis untuk Spurs.

Sebagai contoh, dalam formasi 3-4-2-1 yang dimiliki Spurs saat mereka bermain melawan Chelsea, mereka dapat memulai pertandingan lebih agresif saat di lapangan dan dengan kerjasama yang baik Spurs akhirnya bisa menghantam Chelsea yang berada di puncak klasemen dengan skor 2 – 0. Itu kunci kemenangan yang membuat mereka segera kembali untuk perburuan gelar.

Partner antara Walker dan Rose yang sangat apik ternyata terus membuat orang membicarakan keduany. Bahkan, Pep Guardiola juga ingin mereka berdua berada di City. Ada spekulasi juga jika Jose Mourinho ingin membawa mereka ke sisi Manchester United. Jadi, Tottenham Hotspur saat ini benar-benar beruntung memiliki keduanya.

Saat ini, mereka tidak terdengar seperti pemain yang akan bergegas pergi untuk meninggalkan Spurs musim depan. Bahkan, keduanya terlihat sangat menikmati berada di Spurs. Walau persaingan keduanya tidak bisa hilang, namun keduanya tetap memperlihatkan permainan sebagai partner yang ditakuti oleh lawan.

Mungkin Anda tidak setuju dengan bagian yang mengatakan jika mereka partner yang ditakuti di Eropa. Mungkin juga Anda tidak menilai mereka di antara para pemain togel hk yang terbaik di seluruh Eropa. Tapi Anda harus setuju dengan ungkapan bahwa sebuah persaingan sengit di antara keduanya telah berkembang menjadi partner yang sangat tangguh.

Claudio Ranieri Pantas Jadi Pelatih Terbaik Tahun 2016

Franco Baresi mengungkapkan jika Claudio Raineri lebih layak untuk mendapatkan gelar penghargaan sebagai pelatih terbaik di tahun 2016 dibandingkan 2 lainnya.

Tidak hanya klub yang berebut gelar dan prestasi, tidak juga hanya pemain saja yang berebut untuk mengukir sejarah, melainkan juga para pelatih yang berkompetisi untuk menjadi pelatih terbaik. Walau pada umumnya semua pelatih tidak memikirkan akan gelar pelatih terbaik oleh FIFA karena mereka lebih fokus mengatur strategi dan mengarahkan anak asuhnya di setiap pertandingan, paling tidak, gelar pelatih terbaik ala FIFA mampu memberikan semangat dan sekaligus membuat perbandingan antar pelatih.

Franco Baresi: Claudio Ranieri Pantas Raih Gelar Pelatih Terbaik

Menyusul semakin dekat dengan hari dimana FIFA akan menganugerahkan gelar pelatih terbaik untuk musim 2016, sejumlah nama sudah masuk di dalam nominasi gelar ala FIFA tersebut. Salah satu namanya adalah Claudio Ranieri. Menurut Franco Baresi, Ranieri sangat pantas untuk menjadi pelatih terbaik di tahun ini yang artinya Ranieri jauh lebih baik serta mengalahkan Zinedine Zidane dan juga Fernando Santos. Tentunya, ungkapan ini bukan tanpa alasan.

Baresi yang merupakan mantan pemain klub AC Milan tersebut mengungkapkan jika Ranieri layak untuk menerima penghargaan bergengsi tersebut dikarenakan usahanya yang sangat keras dimana ia mengasuh tim kecil Leicester City namun dengan semangat dan kegigihannya, di musim 2015-2016, ia mampu membawa Leicester City hingga ke puncak klasemen sampai pada akhirnya merasakan gelar sebagai juara di ajang paling bergengsi di Inggris, Liga Primer Inggris untuk yang pertama kalinya dalam sejarah klub.

Nama Claudio Ranieri memang telah tercatat sebagai salah satu dari 3 finalis judi online sebagai pelatih terbaik tahun 2016 menurut FIFA. FIFA memahami dengan sebaik-baiknya kenapa Ranieri ikut bersanding dengan nama Zinedine Zidane yang membawa Real Madrid menjuarai Liga Champions 2016 dan sedangkan Fernando Santos berhasil membawa Timnas Portugal meraih juara Euro 2016. Ranieri yang membawa Leicester City menjuara Liga Primer juga tak luput dari pandangan FIFA.

Claudio Raineri Lebih Layak Dibanding Rivalnya

Keberhasilan kedua rivalnya yakni Zidane dan juga Santos sebenarnya dapat dimaklumi lantara tim yang mereka asuh memiliki pemain bintang dan memiliki komposisi pemain yang bagus terutama sang mega bintang, Cristiano Ronaldo yang bukan hanya sebagai pemain Real Madrid saja melainkan juga punggawa Timnas Portugal. Bisa dibandingkan dengan apa yang didapatkan Raineri.

Bukan berarti melecehkan, akan tetapi jika dibandingkan komposisi materi antara Real Madrid dan Timnas Portugal, Ranieri bisa dikatakan tidak memiliki pemain bintang satu-pun saat itu. Sebaliknya, kesuksesan Leicester City di musim kemarin kemudian melahirkan berbagai bintang baru di Liga Primer Inggris. Sebut saja Wes Morgan, Kasper Schmeichel, Daniel Drinkwater, Riyad Mahrez dan Jamie Vardy yang sebelumnya tidak terlalu diperhitungkan.

Menurut Baresi, 3 pelatih yang masuk nominasi memang menjalani tahun dengan sangat luar biasa. Zidane juara Liga Champions, Santos membawa nama negaranya semakin harum di Euro. Sedangkan Ranieri, Baresi mengatakan jika pelatih ini bahkan membuat sebuah keajaiban dengan Leicester City. Ia menambahkan jika tidak ada kata yang pas yang mampu menggambarkan apa yang telah Ranieri lakukan saat menjuarai Liga Primer Inggris.

Masih menurut Baresi, terkadang sulit untuk menentukan siapakah pelatih yang akan mendapatkan gelar sebagai pelatih terbaik di dunia setiap tahun. Namun, untuk tahun ini, Ranieri memang sangat pantas. Akan tetapi, entah apa yang akan terjadi, di hampir separuh musim 2016-17 ini, Leicester City sangat terpuruk hingga berada di urutan 16 klasemen sementara dengan poin 16. Hanya saja di Liga Champions, Leicester City tampil bagus dan dipastikan mereka lolos babak 16 besar.